Selasa, 16 Oktober 2012

Euforia itu Datang Juga


Assalamualaikum warrahmatullah wabarakatuhu
Selamat pagi, siang, sore, dan malam, tergantung kapan postingan ini akan dibaca.
Well, pertama saya mau meminta maaf pada diri saya sendiri karena sudah membiarkan rasa malas menguasai saya beberapa waktu ini hingga melupakan tugas dari rangkaian MPA Jurusan Manajemen Pendidikan; membuat tulisan tentang briefing MPA hingga pass MPA yang sudah dijalani. Berharap sih masih ingat.

Hal yang paling saya ingat ketika briefing MPA adalah ketika duduk di tempat yang bernama UPT Perpustakaan UNJ bersama ratusan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Pendidikan. Pertama kali diperdengarkan lagu Totalitas Perjuangan, Mars UNJ, Yel-yel FIP, Jargon FIP—yang selama beberapa hari belum juga hafal. Kemudian, ketika waktu menunjukkan hampir dzuhur, saya dan teman-teman lainnya digiring ke jurusan masing-masing. Tentu saya ke Manajemen Pendidikan. O, rasanya saya lega karena semakin sedikit manusia yang berada dalam satu ruangan, akan lebih kondusif. Apalagi, saya bersama teman-teman sejurusan yang dari awal sudah terasa ke-solid-an dan keramahannya. O, sorga. Beberapa jam kemudian, dengan pembekalan latihan yel-yel dan jargon MP, struktur organisasi, serta senandung Mars juga Himne Manajemen Pendidikan, briefing MPA berakhir.

Pembukaan MPA diselenggarakan di sekitaran Kampus B UNJ. Saya dikagetkan oleh tuntutan untuk meneriakan yel-yel Fakultas Ilmu Pendidikan dan jargonnya oleh panitia MPA Fakultas. Saya yang tidak hapal sama sekali hanya melongo dan perlahan menyimak yang lain. Akhirnya, jargon saya kuasai juga. Tak banyak menunda waktu, kami—maba FIP—kembali digiring untuk memasuki lapangan tempat pembukaan MPA bersama 6 Fakultas lainnya. Kemudian saya terkagum-kagum pada kedisiplinan, kerapihan, dan kekompakan para maba  dari Fakultas Ilmu Keolahragaan. Entah bagaimana yang lain, menurut saya mereka sangatlah keren.

Setelah menghadiri acara pembukaan MPA, lagi-lagi kami diarahkan untuk kembali ke Kampus A. Agenda berikutnya adalah lomba yel-yel antar jurusan. Saya tak begitu yakin awalnya, tapi, teman-teman yang lain dengan percaya dirinya mengatakan bahwa MP itu mampu menjadi yang pertama. Saya menjadi malu sendiri pada rasa minder yang berlebihan. Saya memang merasa keberatan ketika mendapat tuntutan untuk menjadi juara pertama. Ada rasa takut mengecewakan para senior yang sudah dengan segenap tenaganya mempersiapkan semua untuk menyambut kami. Akhirnya saya berpikir untuk hanya melakukan yang terbaik! Dan hasilnya?

MPA kedua, MPA Fakultas, hari di mana pengumuman pemenang lomba yel-yel. Saya tak banyak bertanya perihal kemenangan kami, yang saya pikirkan adalah sudahkah cukup usaha kami untuk lomba kemarin? Berhakkah untuk mengharap agar menjadi juara pertama dengan menggeser si juara bertahan; Teknologi Pendidikan?

Dan pada penghujung acara, kami semua tau bahwa penggalan syair dari yel-yel MP yang berbunyi, Mungkin inilah saatnya, Kita pantas jadi juara, Saat kutanya, Jurusan apa? MP namanya, MP juaranya, MP juaranya, MP juaranya, bukanlah hanya sebuah pelengkap dari rangkaian lirik-lirik yang dikarang sembarang demi mempercantik apalagi memperpanjang daftar lagu yang diaransemen. Syair itu adalah doa yang terkabul. Ya, kamilah juara. MP adalah winner. Emosi berlebihan dengan begitu saja datang serempak pada tiap perasaan kami hingga menyebabkan euforia dalam ruang MPA Fakultas.

Efek tidak mengenakan dari kemenangan itu kemudian kami rasakan ketika MPA Jurusan. Bayangkan, sebagai pemenang kami dicecar untuk seminimal mungkin melakukan kesalahan yang berhubungan dengan kekompakan dan keberanian. Ya, hal itu memang wajar. Yang tidak mengenakan lainnya adalah kami dituntut untuk memperdengar dan lihatkan yel-yel yang kami bawa hingga jadi pemenang. Tak hanya satu kali, melainkan sampai tamu jurusan terakhir pergi. Terhitung 4 kali kami membawakan yel-yel yang panjangnya lebih dari 5 menit dengan penuh gerakan power dan suara keras. O, tenggorokanku!

Nah, ada hal menarik yang terjadi ketika MPA Jurusan. Seorang dosen, setelah mendengarkan yel-yel kami yang entah keberapa kali, beliau sedikit berceramah. Tak lama, kami diajak keluar untuk membuat formasi menyerupai huruf M dan P. Kemudian beliau mengatakan, “kalau kalian membuat formasi seperti ini, orang lain akan sudah tahu dengan hanya melihat saja tanpa mendengar koaran suara kalian bahwa kalian mahasiswa MP.”

Saya kagum, dan sangat suka. Kalau ditafsirkan melalui pemikiran saya yang awam, maksud dosen itu adalah dengan menunjukkan sikap kompak dan sikap baik apapun yang menjadi ciri khas MP, maka orang lain akan sudah tahu dengan hanya melihatnya, tanpa bertanya “dari jurusan apa?” tapi langsung tahu “dari Manajemen Pendidikan, ya?” Mungkin.
Dari seluruh rangkaian MPA, yang paling saya ingat adalah MPA Jurusan dan yang paling sedikit ingatannya adalah ketika Penutupan MPA. Kenapa? Saya merasa agak berat meninggalkan dress-code hitam putih dengan nametag dan slayer hijau terang. Semoga nanti, saya diijinkan menjadi salah seorang pejabat di jurusan yang kemudian bisa mendampingi adik-adik saya yang melaksanakan MPA dan berkontribusi banyak di dalam organisasi itu. Amiin.

Wassalamualaikum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar